Qolbun Salim
Pada hakikatnya, yang paling dikehendaki oleh Allah Swt. dari kita
adalah “pengabdian” . wujud pengabdian tersebut sangat beragam, seperti
melaksanakan kewajiban ( shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain).
Dan untuk melakukan kebaikan yang banyak tersebut, sering kali
dibutuhkan perangkat atau alat yang dapat mengantarkan kita ke sana. Untuk bisa
shalat secara baik, dibutuhkan kamar mandi yang memadai ( untuk bersuci,
berwudhu dan sebagainya), baju, parfum, sajadah, bahkan kendaraan yang dapat
dipakai menuju masjid. Ini butuh dana. Untuk bisa zakat, sebagai sebuah bentuk
perintah Allah Swt. belum lagi kita harus menyekolahkan anak-anak, membantu
pembangunan masjid, lembaga pendidikan, menyantuni anak yatim piatu, fakir
miskin, janda tua dan lain-lain.
Dari sini kita bisa memahami
bahwa orang Islam itu pada hakikatnya mesti menjadi orang kaya. Alhasil, dengan
kekayaannya tersebut, ia mampu melakukan kebaikan (ibadah) yang
sebanyak-banyaknya, baik ibadah yang bersifat personal-individual (amal lazim,
seperti shalat dan haji)
Aktivitas seperti telah disebutkan merupakan aktivitas luhur yang
menunjukkan keberadaan kita sebagai manusia, dan peran kita di tengah-tengah
mereka. Kita menjadi hadir untuk mereka, dan memajukan kehidupan serta
kemanusiaan mereka. Peran seperti ini yang mungkin akan mengantarkan kita masuk
dalam sabda Rasulullah Saw, “ Paling dicintainya manusia oleh Allah ialah
yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan, paling dicintainya amal/ perbuatan
ialah memberikan kebahagiaan pada orang Islam, menghilangkan kesusahannya,
memenuhi utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. (HR. Thabrani ).
Banyak orang yang tidak lulus dalam menjalani ujian harta dan
kemewahan hidup. Sebab, ini ialah ujian yang indah. Ujian yang telah
menggilakan banyak orang sehingga mereka menghabiskan sebagian besar waktu
untuk berburu harta dan kemewahan. Ujian yang telah membuat terlena pesertanya
sehingga mereka tidak merasa sedang dalam ujian. Imam Hasan Al-Bashri mengibaratkan harta dan
kemewahan ini seperti ular berbisa, kulitnya lembut, tetapi racunnya mematikan.
Jika dihitung, sepertinya lebih banyak orang yang tidak lulus mengikuti ujian
ini dibandingkan yang lulus dengan nilai baik.
Itulah sebabnya, meskipun menjadi orang kaya yang baik hati ialah
baik, akan tetapi Imam Al-Ghazali lebih suka berpendapat bahwa orang fakir
lebih mulia dibandingkan orang kaya.
Lebih jauh, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa di samping rela, lebih
bagus lagi jika ia memang “mencari”, atau memilih hidup miskin bahkan senang dengan
kemiskinan tersebut, dengan alasan karena ia tahu persis bahaya dan kejelekan
harta dunia. Di dalam hatinya, sama sekali tidak muncul keinginan untuk
memiliki kekayaan atau harta duniawi melebihi batas “ kecukupan” untuk
hidupnya. Dengan demikian, di dalam hatinya lahir rasa tawakkal yang mandalam
kepada Allah Swt.
Kesimpulannya, menjadi orang miskin yang baik, rela, dan sabar,
tentu membutuhkan perjuangan yang berat, termasuk menjadi orang kaya yang baik,
tawadhu, penyayang, cinta sesame, dermawan dan hidup sederhana. Keduanya merupakan
situasi yang mesti dijalani dengan baik. Betapa indahnya jika Islam dihuni oleh
orang-orang kaya dan orang-orang miskin yang baik hati. Yang kaya menyayangin
yang miskin, yang miskin tetap menjaga harga dirinya. Inilah peran yang mesti
dijalankan oleh masing-masing kita. Saat kita kaya, kita peduli terhadap
orang-orang yang membutuhkan.
Semoga kita mendapatkan limpahan hidayah dan pertolongan dari Allah
Swt. sehingga kita menjadi orang-orang baik, yang berbakti dan mengabdi kepada
Allah Swt. sesuai dengan maqam dan posisi yang diberikan-Nya kepada kita. Amin
( penulis mengutip dari buku Qalbun Salim ”Ya Allah Mohon Selalu
Jaga Hatiku”)
Komentar
Posting Komentar